Postingan

Ngobrolin Perfilman Bareng Om Yudi

Gambar
Oleh : Hadi Ibnu sabil Minggu, hari libur yang begitu sakral di kalender pemerintahan republik indonesia dengan di tandai warna merah sebagai hari libur nasional bagi seluruh aktifitas  baik akademisi, perusaan maupun kalangan birokrasi, tapi tidak menjadi hari libur bagi mereka yang bergulung di pasar tradisional, di kalangan pemulung sampah, dikalangan pekerja ojek kendaraan dan lain sebagainya, tapi itu menjadi sesuatu yang biasa  bagi mereka karena dituntut oleh kebutuhan hidup yang harus masing-masing mereka cukupi. Begitupun otak yang kita miliki tidak pernah libur dalam aktifitas kita setiap hari, yaa meski pada malam hari tidur, namun otak masih bekerja dalam membuat cerita mimpi, otak kita yang setiap detiknya mengakses, memfilter, menggagas, mengontrol, menangkap sesuatu yang tidak pernah merasa cukup untuk dipenuhi, dengan melalui mata menangkap segala gambar dan merekam segala kejadian. Pada hari ini (Minggu 05/11/2017) aku dan kawan kawan komunita...

Ngobrolin puisi bareng mas farid

Gambar
Ngobrolin puisi bareng mas farid Oleh : Hadi Ibnu Sabil Pada suatu kesempatan dimana orang orang berlibur kesana kemari, karena hari sabtu di purwakarta berbeda dengan hari sabtu di daerah lain. Aku dan teman-teman komuitas berniat ingin mengentahui makna lebih dalam lagi tentang puisi dan makna maknanya. Farid saat itu bersedia menggantikan sang sastra yang tak bisa menjadi narasumber karena berbenturan dengan kegiatannya. Saya berharap sang sastra yakni kang rudy ariruda (ketua FTBM dan Perintis sanggar sastra purwakarta) bisa mengisi dilain waktu bersama kami, karena ngobrolin puisi yang sudah di awali oleh mas farid ini sangat seru dan membuat banyak pendengar dan pengamat menjadi penasaran yang amat mendalam tentang apa sosok “Puisi” yang sesungguhnya itu. Dalam tulisan esainya mas farid berkata, Puisi tidak pernah datang dari ruang yang kosong, Dedi Mulaydi suatu ketika sesumbar bahwa  semua hal mengandung puisi, bahkan batin puisi dulu ada daripada bentuk dzohirnya, meski...

Dibalik merdeka ada si tua

Gambar
Dibalik  merdeka ada si tua Oleh : Hadi Ibnu Sabilillah Hari ini bangsaku serentak berhenti tidak saling menembak Hari ini negaraku layak syurga mempunyai segala Hari ini bendera bendera serentak berkibar dimana mana Lalu.. aku lupa oleh siapa semua itu ada. Nyanyian indonesia raya bergema dimana-mana Pidato pidato kaum politisi terpapar di setiap sudut kota Pak tuaa, siapa kau sebenarnya Membuat negaraku khusyuk dan khisruh aku harus bertanya kepada siapa,? Selain kepada karya karya tangan sejarahwan  yang melahirkan aksara Aku harus belajar kepada siapa? Selain kepada renungan setiap paragraf yang penuh jeda Sang saka berkibar penuh gelora di samudra udara Merdeka ini membuatku bingung, siapa yang memperjuangkanya Melawan penjajah mati bercucuran darah Mengibarkan bendera tertembak hilang tanpa jejak Mereka bersorak sorak merdeka, lupa akan jasad pak tua Pak tua yang kehilangan harta pak tua yang kehilangan sanak keluarga bahkan pak tua yang rela kehilangan nyawa selamat...

Pelacur yang suci

Gambar
Pelacur yang suci. OLEH             : HADI IBNU SABILILLAH Waktu itu masih seperti waktu waktu sebelumnya bagi mereka, aktifitas yang sangat  tak waras. Dalam satu adegan ada seorang manusia sebatang kara, menikmati waktu waktu yang tak sama dengan manusia manusia disekitarnya dengan kebiasaan kebiasan yang tak seperti manusia biasanya dilakukan. "yaa namanya juga sebatang kara, hidup tak mengandalkan siapa-siapa, hidup tak peduli akan gimana, hidup yang tak tau akan jadi apa". Wanita itu sebut saja dia "Mei" (samaran sadja). Mei menikmati hidupnya dengan ikhlas tanpa berontak, menikmati pekerjaannya dengan desah desah kenikmatan, tapi... Ini bukan salah Mei yang  menjadikan dia seperti itu. Sigadis cantik dan lugu itu diam diam selalu menangis dipertengahan malam, disela sela waktu yang sunyi dan kala sepi sepi menghampirinya, penyesalan selalu menikam malam malamnya. Mei menangisi ulahnya "Andai aku sep...

disela bulan juni ada rindu

Gambar
Disela bulan juni ada rindu Oleh: Hadi ibnu sabilillah ‎ Hujan juni memang jahat‎ musim bersemi dari kemarau menjadi galau dari persemian musim-musim ada air yang berjatuhan ‎Turun dari langit kelopak mata yang bercerita duka Disela bulan  juni ada rindu ada rindu yang bernyanyi syahdu Ada air hujan yang bergenang kenang Ada cerita yang merangkai cinta Dan ada duka yang menyimpan luka Kata-kata berbicara melalui aksra Hening yang pening membisikannya melalui telinga Dekapan sunyi dari malam yang menyimpan geram Sentuhan angin malam memaksa mataku terbenam Disela bulan  juni ada rindu alam mendekapku, kegelisahan mulai mendatanginya‎ Terjerit usiknya manusia, sejuknya mulai hilang Namun, alam tetap medekapku Memaksaku untuk selalu bersamanya Alam tetap mendekapku Mengajaku Menghabiskankan segala rindu‎ Memaksaku Menikmati segala waktu‎ Dengan dekapan ketentramannya, aku menemukan rindu‎ Disela bulan juni ada ...